Sunday, January 29, 2006

Hari-hari terakhir

All my bags are paked
I'm ready to go
I'm standing here outside your door
I hate to wake you up to say goodbye

Hari Minggu ini saya melihat koper saya yang sudah siap membawa barang-barang yang saya perlukan untuk memulai sebuah kehidupan baru. Sebuah kehidupan yang sebenarnya tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Sebuah kehidupan yang menyingkir untuk mengobati berbagai sakit yang mendera saya selama ini.

Ya, saya akan pindah. Ke Bali. Sebuah pulau yang kata orang adalah pulau dewata. Mungkin saya memang perlu pindah ke pulau ini karena saya memang sudah kehilangan percaya pada kota bangsat macam Jakarta.

Jakarta telah menggerus saya. Jakarta telah menyobek saya. Dan kini, Jakarta perlahan sedang mencoba membunuh saya. Tak ada jalan lain. Saya harus pergi.

Ada sebungkah kesedihan ketika melihat ibu saya dengan mata yang berkaca-kaca memberi restu atas kepergian saya. Ibu sedih, tapi katanya kesedihan itu harus ditahannya. Ia tidak mau menjadi egois dengan tidak membiarkan saya pergi.

Saya sedih. Tapi dengan tidak pergi, saya akan makin sedih.

Now the time has come to leave you
One more time
Let me kiss you
Close your eyes
I'll be on my way
Dream about the days to come
When I won't have to leave alone


To someone named 'T'
I love you,
and I still do.

Sunday, January 22, 2006

Kemarin saya ke Surga

Saya pernah bilang ke seorang teman: "Menurut gue, kalau ada agama yang nggak menerima gay atau homoseksual, pasti ada yang kurang dalam ajaran mereka. Karena gue nggak bisa ngebayangin sepinya surga tanpa gay."

Bicara masalah surga, kemarin saya ke Surga. Bukan surga yang berisi janji-janji yang belum berhasil saya buktikan sendiri itu memang, tapi Surga (with a capital 'S') yang ada di Dharmawangsa Square alias Heaven!

Yup, Heaven adalah sebuah gay bar atau lebih tepatnya gay club. Di dalamnya, Anda akan menemukan para pengunjung yang 98% gay, 1% Lesbian, 0,5% straight, dan mungkin 0,5% lainnya adalah mereka yang masih bingung dalam memilih status seksual atau yang sedang melakukan investigasi untuk bahan tulisan atau skripsi.

Sejak sore, kehebohan sudah terjadi diantara saya dan teman-teman yang akan ikut. Sebuah pertanyaan menarik muncul dari seorang teman: "Kalau nggak gay, tetap boleh masuk kan?"

Saya heran! Sungguh saya heran! Bagaimana pertanyaan seperti itu bisa muncul? Apakah gay itu dianggap sebagai semacam name tag yang bisa di scan untuk membuktikan keotentikannya sehingga bagi mereka yang tidak 'otentik' gay akan begitu mudah diseleksi. Atau mungkin para gay dianggap sebagai orang-orang yang selalu membawa papan nama kemana-mana yang menandakan bahwa ia gay sehingga bagi mereka yang tidak 'berpapan nama' berarti bukan gay. Atau mungkin juga gay dianggap punya tanda-tanda atau gejala khusus yang begitu nyata dan terlihat laksana penyakit.

Ah! Dasar paradigma! Cara pikir dan pandang yang terbentuk dari himpitan lingkungan yang maunya hitam putih dan tidak menerima pelangi yang warna-warni dan indah.

Jam 23.45 kami masuk Heaven dengan password khusus yang membuat kami bebas cover charge. Sampai di dalam suasana masih belum hangat. Crowd masih bergerombol dengan kelompoknya masing-masing. Dentuman musik belum bercampur dengan alkohol dalam takaran yang pas tampaknya. Semua masih tenang. Paling satu dua orang menghentakkan kaki kecil-kecil tanda ia tidak tuli. Saya dan teman-temanpun demikian. Bergerak-gerak sedikit mengikuti dentum musik. Kami kan tidak tuli!

Jam 24 lebih sedikit, alkohol mulai menghangatkan suasana. Ceritanya jadi lain sekarang! Dentuman musik laksana gelitikan nakal yang membuat kaki mulai menghentak. Tanganpun mulai tak mau ketinggalan ikut bergerak.

Makin pagi, dentum musik makin gaduh! Suasana sudah panas. Pinggul mulai ikut bergoyang. Saya dan Jaime mulai turun ke dance floor. Di sana, sudah banyak yang bergoyang panas. Ada juga yang bergoyang miring karena sudah begitu high. Lebih dari itu, ada juga yang bergoyang maksa. Maksudnya, sudah tidak mampu goyang, tapi karena terlanjur high, jadilah goyang yang sambil dipanggul teman agar tidak terjerembab, maksa banget kan?!

Saya sebenarnya berharap menemukan suasana layaknya gay club yang rajin saya datangi saat berkesempatan keluar negeri (ah...sombong kau!) dimana begitu banyak mereka yang membuka baju saking panasnya. Wow! Saya tunggu-tunggu benar moment itu. Tapi sampai jam 3 saat saya dipaksa pulang Muti yang bermasalah dengan lensa kontaknya, saya belum menemukannya. Ah...mungkin lusa...a...a...atau dilain waktu...(dendangan lagu Koes Plus! Duh...umur saya!)

Jam 6 pagi saya baru sampai rumah. Pengalaman ke Surga (lagi-lagi with a capital 'S') benar-benar tak terlupakan.

Minggu depan kita ke sana lagi kan Ndro?!

Wednesday, January 18, 2006

Ya ampun! Mimpi basahku...


Pagi ini saya terbangun dengan perasaan tidak percaya. Lagi-lagi celana saya basah dengan cairan sperma dan ini adalah yang ke dua kalinya dalam satu minggu ini. Ada apa dengan hormon saya?

Yang lebih membuat saya kaget (bercampur senang juga) adalah bahwa pagi itu saya bercinta dengan Daniel Brühl. Itu lho, pemeran Alexander dalam film 'Good Bye Lenin'. Ya, film yang tahun lalu diputar dalam Jiffest sebagai film penutup.

Memang sudah dua malam saya menonton film menarik arahan Wolfgang Becker itu dan saya sungguh terpesona dengan ketampanan Daniel Brühl, selain kecanggihan efek-efek digital yang mampu menyulap Jerman yang modern menjadi tampak begitu tua dan otentik seperti pada saat tembok Berlin masih berdiri kokoh tentunya.

Yah tapi memang film biarlah tetap menjadi film. Yang penting saya sudah pernah bercinta dengan Daniel Brühl, walau hanya dalam mimpi basah.