Kemarin saya ke Surga
Saya pernah bilang ke seorang teman: "Menurut gue, kalau ada agama yang nggak menerima gay atau homoseksual, pasti ada yang kurang dalam ajaran mereka. Karena gue nggak bisa ngebayangin sepinya surga tanpa gay."
Bicara masalah surga, kemarin saya ke Surga. Bukan surga yang berisi janji-janji yang belum berhasil saya buktikan sendiri itu memang, tapi Surga (with a capital 'S') yang ada di Dharmawangsa Square alias Heaven!
Yup, Heaven adalah sebuah gay bar atau lebih tepatnya gay club. Di dalamnya, Anda akan menemukan para pengunjung yang 98% gay, 1% Lesbian, 0,5% straight, dan mungkin 0,5% lainnya adalah mereka yang masih bingung dalam memilih status seksual atau yang sedang melakukan investigasi untuk bahan tulisan atau skripsi.
Sejak sore, kehebohan sudah terjadi diantara saya dan teman-teman yang akan ikut. Sebuah pertanyaan menarik muncul dari seorang teman: "Kalau nggak gay, tetap boleh masuk kan?"
Saya heran! Sungguh saya heran! Bagaimana pertanyaan seperti itu bisa muncul? Apakah gay itu dianggap sebagai semacam name tag yang bisa di scan untuk membuktikan keotentikannya sehingga bagi mereka yang tidak 'otentik' gay akan begitu mudah diseleksi. Atau mungkin para gay dianggap sebagai orang-orang yang selalu membawa papan nama kemana-mana yang menandakan bahwa ia gay sehingga bagi mereka yang tidak 'berpapan nama' berarti bukan gay. Atau mungkin juga gay dianggap punya tanda-tanda atau gejala khusus yang begitu nyata dan terlihat laksana penyakit.
Ah! Dasar paradigma! Cara pikir dan pandang yang terbentuk dari himpitan lingkungan yang maunya hitam putih dan tidak menerima pelangi yang warna-warni dan indah.
Jam 23.45 kami masuk Heaven dengan password khusus yang membuat kami bebas cover charge. Sampai di dalam suasana masih belum hangat. Crowd masih bergerombol dengan kelompoknya masing-masing. Dentuman musik belum bercampur dengan alkohol dalam takaran yang pas tampaknya. Semua masih tenang. Paling satu dua orang menghentakkan kaki kecil-kecil tanda ia tidak tuli. Saya dan teman-temanpun demikian. Bergerak-gerak sedikit mengikuti dentum musik. Kami kan tidak tuli!
Jam 24 lebih sedikit, alkohol mulai menghangatkan suasana. Ceritanya jadi lain sekarang! Dentuman musik laksana gelitikan nakal yang membuat kaki mulai menghentak. Tanganpun mulai tak mau ketinggalan ikut bergerak.
Makin pagi, dentum musik makin gaduh! Suasana sudah panas. Pinggul mulai ikut bergoyang. Saya dan Jaime mulai turun ke dance floor. Di sana, sudah banyak yang bergoyang panas. Ada juga yang bergoyang miring karena sudah begitu high. Lebih dari itu, ada juga yang bergoyang maksa. Maksudnya, sudah tidak mampu goyang, tapi karena terlanjur high, jadilah goyang yang sambil dipanggul teman agar tidak terjerembab, maksa banget kan?!
Saya sebenarnya berharap menemukan suasana layaknya gay club yang rajin saya datangi saat berkesempatan keluar negeri (ah...sombong kau!) dimana begitu banyak mereka yang membuka baju saking panasnya. Wow! Saya tunggu-tunggu benar moment itu. Tapi sampai jam 3 saat saya dipaksa pulang Muti yang bermasalah dengan lensa kontaknya, saya belum menemukannya. Ah...mungkin lusa...a...a...atau dilain waktu...(dendangan lagu Koes Plus! Duh...umur saya!)
Jam 6 pagi saya baru sampai rumah. Pengalaman ke Surga (lagi-lagi with a capital 'S') benar-benar tak terlupakan.
Minggu depan kita ke sana lagi kan Ndro?!
Bicara masalah surga, kemarin saya ke Surga. Bukan surga yang berisi janji-janji yang belum berhasil saya buktikan sendiri itu memang, tapi Surga (with a capital 'S') yang ada di Dharmawangsa Square alias Heaven!
Yup, Heaven adalah sebuah gay bar atau lebih tepatnya gay club. Di dalamnya, Anda akan menemukan para pengunjung yang 98% gay, 1% Lesbian, 0,5% straight, dan mungkin 0,5% lainnya adalah mereka yang masih bingung dalam memilih status seksual atau yang sedang melakukan investigasi untuk bahan tulisan atau skripsi.
Sejak sore, kehebohan sudah terjadi diantara saya dan teman-teman yang akan ikut. Sebuah pertanyaan menarik muncul dari seorang teman: "Kalau nggak gay, tetap boleh masuk kan?"
Saya heran! Sungguh saya heran! Bagaimana pertanyaan seperti itu bisa muncul? Apakah gay itu dianggap sebagai semacam name tag yang bisa di scan untuk membuktikan keotentikannya sehingga bagi mereka yang tidak 'otentik' gay akan begitu mudah diseleksi. Atau mungkin para gay dianggap sebagai orang-orang yang selalu membawa papan nama kemana-mana yang menandakan bahwa ia gay sehingga bagi mereka yang tidak 'berpapan nama' berarti bukan gay. Atau mungkin juga gay dianggap punya tanda-tanda atau gejala khusus yang begitu nyata dan terlihat laksana penyakit.
Ah! Dasar paradigma! Cara pikir dan pandang yang terbentuk dari himpitan lingkungan yang maunya hitam putih dan tidak menerima pelangi yang warna-warni dan indah.
Jam 23.45 kami masuk Heaven dengan password khusus yang membuat kami bebas cover charge. Sampai di dalam suasana masih belum hangat. Crowd masih bergerombol dengan kelompoknya masing-masing. Dentuman musik belum bercampur dengan alkohol dalam takaran yang pas tampaknya. Semua masih tenang. Paling satu dua orang menghentakkan kaki kecil-kecil tanda ia tidak tuli. Saya dan teman-temanpun demikian. Bergerak-gerak sedikit mengikuti dentum musik. Kami kan tidak tuli!
Jam 24 lebih sedikit, alkohol mulai menghangatkan suasana. Ceritanya jadi lain sekarang! Dentuman musik laksana gelitikan nakal yang membuat kaki mulai menghentak. Tanganpun mulai tak mau ketinggalan ikut bergerak.
Makin pagi, dentum musik makin gaduh! Suasana sudah panas. Pinggul mulai ikut bergoyang. Saya dan Jaime mulai turun ke dance floor. Di sana, sudah banyak yang bergoyang panas. Ada juga yang bergoyang miring karena sudah begitu high. Lebih dari itu, ada juga yang bergoyang maksa. Maksudnya, sudah tidak mampu goyang, tapi karena terlanjur high, jadilah goyang yang sambil dipanggul teman agar tidak terjerembab, maksa banget kan?!
Saya sebenarnya berharap menemukan suasana layaknya gay club yang rajin saya datangi saat berkesempatan keluar negeri (ah...sombong kau!) dimana begitu banyak mereka yang membuka baju saking panasnya. Wow! Saya tunggu-tunggu benar moment itu. Tapi sampai jam 3 saat saya dipaksa pulang Muti yang bermasalah dengan lensa kontaknya, saya belum menemukannya. Ah...mungkin lusa...a...a...atau dilain waktu...(dendangan lagu Koes Plus! Duh...umur saya!)
Jam 6 pagi saya baru sampai rumah. Pengalaman ke Surga (lagi-lagi with a capital 'S') benar-benar tak terlupakan.
Minggu depan kita ke sana lagi kan Ndro?!



0 Comments:
Post a Comment
<< Home