Besakih, Bali's 'Mother Temple'
Ajakan ke Besakih oleh Zoel, teman baru saya di Bali, tidak saya pikir dua kali! Langsung ‘ya!’. Kapan lagi ada yang mau ajak saya jalan-jalan gratis?
Jadilah siang itu (11.30) Zoel menjemput saya di tempat kos. Tujuannya jelas: jalan-jalan ke Besakih dan melihat puranya yang sangat kesohor itu. Perjalanan dari Denpasar ke Besakih memakan waktu sekitar satu setengah jam. Dalam perjalanan, saya dan Zoel sempat berhenti di sebuah tempat dengan pemandangan yang indah.
Yang menarik adalah bahwa di sepanjang jalan kami mendapati banyak sekali orang bergerak menuju Besakih dengan membawa berbagai persembahan untuk sembayang. Saya dan Zoel menduga bahwa di pura Besakih sana sedang ada upacara dan tentu ini akan sangat menarik.
Sampai di sebuah jalan (yang sudah dekat dengan pura), Zoel mengatakan bahwa kami harus membayar Rp.7500,-. Tapi lucunya hari itu tidak ada yang jaga disitu. Kami langsung tancap gas menuju pura. Disana kami harus memarkir mobil di tempat yang telah disediakan. Begitu turun dari mobil, pedagang sarung langsung sibuk menawarkan dagangannya. Bukan hanya untuk dibeli, tapi juga boleh di sewa. Ongkos sewanya Rp.5000,-. Ini hal yang unik. Selain tidak boleh masuknya perempuan yang sedang haid, peraturan di pura Besakih juga mengharuskan semua orang yang hendak masuk untuk bersarung. Motif, bentuk, cara pakai sarungnya bebas. Yang penting terlihat ada kain yang terpasang di pinggang. Karena sudah diingatkan Zoel untuk membawa sarung, maka saya tidak perlu menyewa apalagi membeli sarung disitu.
Selanjutnya kami dihentikan di gerbang masuk pura. Disitu kami ditanyai apakah sudah membeli retribusi di bawah tadi. Untung Zoel jago, dia bilang sudah, dan ketika ditanya mana buktinya, dia bilang tertinggal di mobil. Akhirnya kami boleh masuk. Mulai dari gerbang itu kami sudah harus mengenakan sarung (lagi-lagi terserah bagaimana memakainya). Di perjalanan itu kami diikuti oleh dua tukang ojek yang ribut minta disewa motornya, dan seorang pemandu lokal yang tak hentinya mengancam bahwa kami tidak boleh masuk ke pura tanpa dampingannya. Si tukang ojek minta bayaran Rp. 10.000,- untuk sewa motor, sedangkan si pemandu lokal minta Rp.15.000,- untuk panduannya. Saya sepakat untuk memakai pemandu saja dan tidak ojek karena memang saya ingin berjalan dibawah terik matahari agar kulit berwarna lebih coklat.
Perjalanan dari gerbang menuju pura adalah sekitar 1 km, menanjak pula. Lumayan untuk olahraga. Sampai di pura saya langsung kegirangan. Begitu banyak orang sedang sembahyang disana dengan aneka rupa persembahan yang mereka bawa. Warna-warni khas Bali begitu kental. Tak hentinya saya berganti-ganti kamera untuk mengabadikan setiap momen yang ada. Semua sangat menarik.


Sampai di sebuah kompleks pura, saya membeli canang. Canang saya definisikan sebagai sebuah sesembahan kecil yang terdiri dari bunga-bunga aneka rupa dengan piringnya yang terbuat dari janur. Indah sekali. Saya beli Rp.1000,-. Padahal saya tahu di pasar harganya Rp.500,- untuk tiga piring.
Setelah membeli canang, saya diajak untuk berdoa di sebuah kompleks pura. Upacara kecil itu dipimpin oleh seorang pemangku. Senang sekali rasanya ketika akhirnya saya merasakan bagaimana diperciki air yang menurut pemandu saya adalah air suci.Doa dimulai dengan mensucikan tangan dengan cara mengambil asap yang keluar dari hio. Lalu saya diminta untuk mengambil bunga berwarna biru, mengangkatnya ke kepala (layaknya orang menyembah), lalu meletakkannya di tanah. Berikutnya saya diminta mengambil daun yang hijau, mengangkatnya ke kepala, lalu meletakkan daun itu di atas kepala. Selanjutnya bunga berwarna merah atau kuning, mengangkatkan ke kepala, lalu membaginya menjadi dua bagian dan menyelipkannya di kedua daun telinga. Setelah itu semua selesai, sang pemangku bergerak mengambil air suci, memerciki saya lagi, lalu menempelkan sejumlah beras di dahi saya. Ini untuk kemakmuran, menurut pemandu saya.


Setelah semua selesai, saya diajak berjalan ke puncak pura Besakih. Dari sana terlihatlah kompleks pura (semuanya ada 18 kompleks pura) yang dikatakan sebagai ibu dari semua pura di Bali.
Perjalanan turun membuat saya dan Zoel terkejut. Ketika kami membayar di pemandu dengan uang Rp.15.000,- dia tampak bengong. Lalu protes: “Kurang!”. Saya bingung. Zoel apalagi. “Lima belas ribu itu satu orang. Jadi dua orang tiga puluh ribu.” Kata si pemandu dengan logat Bali nan kental. “Gwahahaha!” Saya dan Zoel langsung tertawa bersama. Rupanya kami telah ‘tertipu’ dengan kalimat nan ambigu khas daerah wisata. Tipu-tipu memang biasa disini! Ya sudah lah, kami bayar. Toh kami banyak mendapat pengetahuan dan bantuan darinya.
Dalam perjalanan pulang menuju gerbang pura, saya mencicip makanan khas Bali, sate lilit. Senangnya saya bisa mendapatkan sate ikan disini. Ada empat macam sate yang dijual disini. Sate ikan tuna dengan warna alami, warna merah, ikan campur kepala, dan sate babi. Saya cobai tiga yang pertama. Dan percayalah, semuanya enak, walaupun yang paling enak adalah sate ikan tuna dengan warna yang alami.
Dari Besakih saya menyetani Zoel untuk ke Ubud. Saya sangat suka Ubud setelah perjalanan pertama saya kesana kemarin. Untung Zoel mau. Senangnya saya bisa ke Ubud lagi.
Sampai di belokan Ubud dengan patung Arjunanya, saya langsung mengajak Zoel ke Tegalalang. Saya masih penasaran dengan klentongan bambu yang sangat bagus dengan harga Rp.15.000an. Tegalalang kami susuri. Tapi karena Zoel kelaparan, jadilah tidak sampai ujung seperti kemarin. Hari ini saya beli aroma therapy yang dijual berikut keramiknya dengan harga hanya Rp.8000,- saja. Setelah itu berhenti di penjual klentongan lain. Disana saya dapat klentongan 40cm hanya dengan Rp.5000,-. Senang!
Dalam perjalanan pulang ke Denpasar, kami berhenti untuk mengisi perut di sebuah warung Padang. Zoel agak ribut masalah makanan rupanya. OK lah. Setelah makan, tujuan berikutnya adalah Discovery Mall di pantai Kuta. Hmmm...langsung terbayang keindahan pantai itu. Sebelum kesana, lagi-lagi saya meracuni Zoel untuk mengantar saya ke Kuta Square. Disana saya membeli sebuah topi. Ini bukan untuk gaya-gayaan, tapi kebutuhan. Disini, saya butuh topi.
Jam 8 malam kegiatan berakhir. Pulang. Tidur.
Jadilah siang itu (11.30) Zoel menjemput saya di tempat kos. Tujuannya jelas: jalan-jalan ke Besakih dan melihat puranya yang sangat kesohor itu. Perjalanan dari Denpasar ke Besakih memakan waktu sekitar satu setengah jam. Dalam perjalanan, saya dan Zoel sempat berhenti di sebuah tempat dengan pemandangan yang indah.
Yang menarik adalah bahwa di sepanjang jalan kami mendapati banyak sekali orang bergerak menuju Besakih dengan membawa berbagai persembahan untuk sembayang. Saya dan Zoel menduga bahwa di pura Besakih sana sedang ada upacara dan tentu ini akan sangat menarik.Sampai di sebuah jalan (yang sudah dekat dengan pura), Zoel mengatakan bahwa kami harus membayar Rp.7500,-. Tapi lucunya hari itu tidak ada yang jaga disitu. Kami langsung tancap gas menuju pura. Disana kami harus memarkir mobil di tempat yang telah disediakan. Begitu turun dari mobil, pedagang sarung langsung sibuk menawarkan dagangannya. Bukan hanya untuk dibeli, tapi juga boleh di sewa. Ongkos sewanya Rp.5000,-. Ini hal yang unik. Selain tidak boleh masuknya perempuan yang sedang haid, peraturan di pura Besakih juga mengharuskan semua orang yang hendak masuk untuk bersarung. Motif, bentuk, cara pakai sarungnya bebas. Yang penting terlihat ada kain yang terpasang di pinggang. Karena sudah diingatkan Zoel untuk membawa sarung, maka saya tidak perlu menyewa apalagi membeli sarung disitu.
Selanjutnya kami dihentikan di gerbang masuk pura. Disitu kami ditanyai apakah sudah membeli retribusi di bawah tadi. Untung Zoel jago, dia bilang sudah, dan ketika ditanya mana buktinya, dia bilang tertinggal di mobil. Akhirnya kami boleh masuk. Mulai dari gerbang itu kami sudah harus mengenakan sarung (lagi-lagi terserah bagaimana memakainya). Di perjalanan itu kami diikuti oleh dua tukang ojek yang ribut minta disewa motornya, dan seorang pemandu lokal yang tak hentinya mengancam bahwa kami tidak boleh masuk ke pura tanpa dampingannya. Si tukang ojek minta bayaran Rp. 10.000,- untuk sewa motor, sedangkan si pemandu lokal minta Rp.15.000,- untuk panduannya. Saya sepakat untuk memakai pemandu saja dan tidak ojek karena memang saya ingin berjalan dibawah terik matahari agar kulit berwarna lebih coklat.
Perjalanan dari gerbang menuju pura adalah sekitar 1 km, menanjak pula. Lumayan untuk olahraga. Sampai di pura saya langsung kegirangan. Begitu banyak orang sedang sembahyang disana dengan aneka rupa persembahan yang mereka bawa. Warna-warni khas Bali begitu kental. Tak hentinya saya berganti-ganti kamera untuk mengabadikan setiap momen yang ada. Semua sangat menarik.


Sampai di sebuah kompleks pura, saya membeli canang. Canang saya definisikan sebagai sebuah sesembahan kecil yang terdiri dari bunga-bunga aneka rupa dengan piringnya yang terbuat dari janur. Indah sekali. Saya beli Rp.1000,-. Padahal saya tahu di pasar harganya Rp.500,- untuk tiga piring.Setelah membeli canang, saya diajak untuk berdoa di sebuah kompleks pura. Upacara kecil itu dipimpin oleh seorang pemangku. Senang sekali rasanya ketika akhirnya saya merasakan bagaimana diperciki air yang menurut pemandu saya adalah air suci.Doa dimulai dengan mensucikan tangan dengan cara mengambil asap yang keluar dari hio. Lalu saya diminta untuk mengambil bunga berwarna biru, mengangkatnya ke kepala (layaknya orang menyembah), lalu meletakkannya di tanah. Berikutnya saya diminta mengambil daun yang hijau, mengangkatnya ke kepala, lalu meletakkan daun itu di atas kepala. Selanjutnya bunga berwarna merah atau kuning, mengangkatkan ke kepala, lalu membaginya menjadi dua bagian dan menyelipkannya di kedua daun telinga. Setelah itu semua selesai, sang pemangku bergerak mengambil air suci, memerciki saya lagi, lalu menempelkan sejumlah beras di dahi saya. Ini untuk kemakmuran, menurut pemandu saya.


Setelah semua selesai, saya diajak berjalan ke puncak pura Besakih. Dari sana terlihatlah kompleks pura (semuanya ada 18 kompleks pura) yang dikatakan sebagai ibu dari semua pura di Bali.
Perjalanan turun membuat saya dan Zoel terkejut. Ketika kami membayar di pemandu dengan uang Rp.15.000,- dia tampak bengong. Lalu protes: “Kurang!”. Saya bingung. Zoel apalagi. “Lima belas ribu itu satu orang. Jadi dua orang tiga puluh ribu.” Kata si pemandu dengan logat Bali nan kental. “Gwahahaha!” Saya dan Zoel langsung tertawa bersama. Rupanya kami telah ‘tertipu’ dengan kalimat nan ambigu khas daerah wisata. Tipu-tipu memang biasa disini! Ya sudah lah, kami bayar. Toh kami banyak mendapat pengetahuan dan bantuan darinya.
Dalam perjalanan pulang menuju gerbang pura, saya mencicip makanan khas Bali, sate lilit. Senangnya saya bisa mendapatkan sate ikan disini. Ada empat macam sate yang dijual disini. Sate ikan tuna dengan warna alami, warna merah, ikan campur kepala, dan sate babi. Saya cobai tiga yang pertama. Dan percayalah, semuanya enak, walaupun yang paling enak adalah sate ikan tuna dengan warna yang alami.
Dari Besakih saya menyetani Zoel untuk ke Ubud. Saya sangat suka Ubud setelah perjalanan pertama saya kesana kemarin. Untung Zoel mau. Senangnya saya bisa ke Ubud lagi.
Sampai di belokan Ubud dengan patung Arjunanya, saya langsung mengajak Zoel ke Tegalalang. Saya masih penasaran dengan klentongan bambu yang sangat bagus dengan harga Rp.15.000an. Tegalalang kami susuri. Tapi karena Zoel kelaparan, jadilah tidak sampai ujung seperti kemarin. Hari ini saya beli aroma therapy yang dijual berikut keramiknya dengan harga hanya Rp.8000,- saja. Setelah itu berhenti di penjual klentongan lain. Disana saya dapat klentongan 40cm hanya dengan Rp.5000,-. Senang!
Dalam perjalanan pulang ke Denpasar, kami berhenti untuk mengisi perut di sebuah warung Padang. Zoel agak ribut masalah makanan rupanya. OK lah. Setelah makan, tujuan berikutnya adalah Discovery Mall di pantai Kuta. Hmmm...langsung terbayang keindahan pantai itu. Sebelum kesana, lagi-lagi saya meracuni Zoel untuk mengantar saya ke Kuta Square. Disana saya membeli sebuah topi. Ini bukan untuk gaya-gayaan, tapi kebutuhan. Disini, saya butuh topi.
Jam 8 malam kegiatan berakhir. Pulang. Tidur.



0 Comments:
Post a Comment
<< Home