Tamu-Tamu Pertama Kost Saya
Malam itu jam 21an tanpa diduga Ella menelpon dan menyatakan akan berkunjung ke kost-kost-an saya yang baru. Wah, saya senang sekali. Disaat yang bersamaan Joel juga menelpon, katanya ia sedang tidak sibuk. Refleks saya langsung mengajaknya untuk datang ke kost-kost-an saya juga.
Jadilah malam itu kami ber-empat berkumpul di kamar kost saya yang baru. Sebuah kamar kost yang pada saat diiklankan di harian lokal ‘Bali Post’ dikatakan sebagai ‘nice apartment’. Saya berbagi dengan seorang teman di sini. Uang yang saya bayarkan tentu lebih kecil dengan cara itu.
Apartemen saya terdiri dari sebuah ruang tidur yang sekaligus adalah ruang tamu, ruang makan, ruang dandan, dan pemampatan ruang-ruang lainnya, sebuah dapur, dan sebuah kamar mandi. Fasilitasnya lumayan lengkap. AC, TV, Kulkas, tempat parkir yang luas, dan lokasi di tengah kota adalah hal-hal yang membuat kami memilih tempat ini, setidaknya untuk tiga bulan kedepan. Ah...ada yang saya lupa, biaya listrik ditanggung oleh bapak kost. Iya bapak kost.
Bapak kost saya bernama pak Endra. Saat pertama masuk ke ‘apartemen’ kecil ini saya sempat berbincang dengannya. Ia dan istrinya adalah orang asli Bali dan beragama Hindu. Ia sempat bercerita tentang reinkarnasi dalam agama Hindu. Saya yang pada dasarnya menyukai agama dan kebudayaan tentu tertarik dengan cerita-ceritanya. Tidak hanya itu, ia juga punya hobi fotografi. Ketika tahu bahwa saya suka fotografi, ia menawarkan saya pekerjaan untuk memotret makanan di restoran miliknya yang terletak tepat di depan ‘apartemen’ saya. Ya, pak Endra dan pekerjaannya adalah hal yang beberapa tahun lalu pernah saya perbincangkan dengan teman-teman sebagai pekerjaan yang paling ideal. Begini ceritanya:
Waktu itu saya punya seorang teman yang kaya raya. Rumahnya besar, mobilnya mewah-mewah, pakaian yang dipakainya selalu bermerk, pokoknya kelihatan banget deh kekayaannya. Karena dia ganteng, maka saya sering menginap di rumahnya. Saat itulah saya baru tahu bahwa ayahnya memiliki pekerjaan yang ‘ideal’. Ideal? Yup...ideal! Begini lho, sang ayah itu punya istri yang cantik (ibunya teman saya itu memang cantik dan tampak muda) yang berasal dari keluarga kaya. Selain itu, sang istri adalah salah satu pejabat teras di Pertamina, yang ini jelas membuat mereka makin kaya dong. Jangankan pejabat teras, pekerja biasa di Pertamina saja sudah kaya-kaya! Nah, diwaktu pagi, ketika sang istri bersibuk diri untuk berangkat ke kantor, ia masih bersantai-santai di kamar. Jam sepuluh ketika saya makan pagi bersama teman saya itu, ia baru tampak keluar kamar, masih memakai sarung. Jam dua-an ketika saya makan siang, ia menelpon rumah menanyakan barang-barang kebutuhan apa yang habis di rumah. Wah...berarti dia sedang di pusat perbelanjaan dong! Enak kan pekerjaan seperti itu. Bangun siang, santai-santai, dan berbelanja. Paling kerjanya malam doang! Itupun di kamar tidur!
Ya...ya...sudah...sudah...jangan ngomongin orang terus! Lebih baik saya membicarakan kejadian malam itu saja.
Awalnya, teuteup, kami langsung foto-foto di kamar kos. Banci kamera semua kayaknya! Selanjutnya, sebagai tuan rumah yang ingin membanggakan ‘apartemen’nya, saya dan Ika langsung mengeluarkan Milo dingin. Mmm...! Berikutnya adalah obrolan tentang rencana petualangan hari Minggu besok. Tampaknya kami akan ke Bedugul! Ah...saya tidak sabar untuk lagi-lagi menjelah Bali!



Jam 23an Ella mulai pamitan pulang. Ia pulang 15 menit kemudian. Disusul Joel yang pulang pukul 23.45an. ‘Apartemen’ kembali sepi. Saatnya tidur dan berbagi selimut dengan Ika!
Jadilah malam itu kami ber-empat berkumpul di kamar kost saya yang baru. Sebuah kamar kost yang pada saat diiklankan di harian lokal ‘Bali Post’ dikatakan sebagai ‘nice apartment’. Saya berbagi dengan seorang teman di sini. Uang yang saya bayarkan tentu lebih kecil dengan cara itu.
Apartemen saya terdiri dari sebuah ruang tidur yang sekaligus adalah ruang tamu, ruang makan, ruang dandan, dan pemampatan ruang-ruang lainnya, sebuah dapur, dan sebuah kamar mandi. Fasilitasnya lumayan lengkap. AC, TV, Kulkas, tempat parkir yang luas, dan lokasi di tengah kota adalah hal-hal yang membuat kami memilih tempat ini, setidaknya untuk tiga bulan kedepan. Ah...ada yang saya lupa, biaya listrik ditanggung oleh bapak kost. Iya bapak kost.
Bapak kost saya bernama pak Endra. Saat pertama masuk ke ‘apartemen’ kecil ini saya sempat berbincang dengannya. Ia dan istrinya adalah orang asli Bali dan beragama Hindu. Ia sempat bercerita tentang reinkarnasi dalam agama Hindu. Saya yang pada dasarnya menyukai agama dan kebudayaan tentu tertarik dengan cerita-ceritanya. Tidak hanya itu, ia juga punya hobi fotografi. Ketika tahu bahwa saya suka fotografi, ia menawarkan saya pekerjaan untuk memotret makanan di restoran miliknya yang terletak tepat di depan ‘apartemen’ saya. Ya, pak Endra dan pekerjaannya adalah hal yang beberapa tahun lalu pernah saya perbincangkan dengan teman-teman sebagai pekerjaan yang paling ideal. Begini ceritanya:
Waktu itu saya punya seorang teman yang kaya raya. Rumahnya besar, mobilnya mewah-mewah, pakaian yang dipakainya selalu bermerk, pokoknya kelihatan banget deh kekayaannya. Karena dia ganteng, maka saya sering menginap di rumahnya. Saat itulah saya baru tahu bahwa ayahnya memiliki pekerjaan yang ‘ideal’. Ideal? Yup...ideal! Begini lho, sang ayah itu punya istri yang cantik (ibunya teman saya itu memang cantik dan tampak muda) yang berasal dari keluarga kaya. Selain itu, sang istri adalah salah satu pejabat teras di Pertamina, yang ini jelas membuat mereka makin kaya dong. Jangankan pejabat teras, pekerja biasa di Pertamina saja sudah kaya-kaya! Nah, diwaktu pagi, ketika sang istri bersibuk diri untuk berangkat ke kantor, ia masih bersantai-santai di kamar. Jam sepuluh ketika saya makan pagi bersama teman saya itu, ia baru tampak keluar kamar, masih memakai sarung. Jam dua-an ketika saya makan siang, ia menelpon rumah menanyakan barang-barang kebutuhan apa yang habis di rumah. Wah...berarti dia sedang di pusat perbelanjaan dong! Enak kan pekerjaan seperti itu. Bangun siang, santai-santai, dan berbelanja. Paling kerjanya malam doang! Itupun di kamar tidur!
Ya...ya...sudah...sudah...jangan ngomongin orang terus! Lebih baik saya membicarakan kejadian malam itu saja.
Awalnya, teuteup, kami langsung foto-foto di kamar kos. Banci kamera semua kayaknya! Selanjutnya, sebagai tuan rumah yang ingin membanggakan ‘apartemen’nya, saya dan Ika langsung mengeluarkan Milo dingin. Mmm...! Berikutnya adalah obrolan tentang rencana petualangan hari Minggu besok. Tampaknya kami akan ke Bedugul! Ah...saya tidak sabar untuk lagi-lagi menjelah Bali!



Jam 23an Ella mulai pamitan pulang. Ia pulang 15 menit kemudian. Disusul Joel yang pulang pukul 23.45an. ‘Apartemen’ kembali sepi. Saatnya tidur dan berbagi selimut dengan Ika!



0 Comments:
Post a Comment
<< Home