Trip to Ubud via Tegalalang
Perjalanan dari Denpasar menuju Ubud memakan waktu sekitar satu jam. Teman saya yang ada di belakang kemudi menawarkan dua opsi. Pertama, lewat Sukawati (pasar seni yang sangat terkenal itu), atau kedua, lewat persawahan. Karena jiwa saya masih jiwa turis yang gila belanja oleh-oleh, maka saya langsung pilih opsi pertama. Lewat Sukawati.
Pilihan saya tak salah rupanya. Dua sisi jalan menuju Ubud via Sukawati itu benar-benar dipenuhi toko-toko yang menjual barang-barang seni khas Bali. Semua memanggil-manggil minta dibeli. Mmm...sepertinya saya memang harus mulai mengganti mind set yang masih saja menganggap diri sebagai turis. Sebab kalau begini terus, bisa-bisa uang saya habis untuk beli barang2 itu.
Ditengah perjalanan, seorang teman yang duduk di bangku belakang punya ide menarik. “Gimana kalau kita ke Tegalalang!” Wah...bagi saya, kemanapun di Bali ini adalah tempat yang menarik. Sebab saya memang sangat ingin menjelajah Bali sampe se dalam-dalamnya. Jadilah kami sebelum belok kiri ke Ubud, mengambil jalan lurus arah Tegalalang. Dan benar saja. Tak kalah bagusnya dengan Sukawati, toko-toko di sepanjang jalan Tegalalang ini rupanya juga menawarkan barang-barang seni khas Bali. Wow...hampir saja saya melompat dari mobil untuk memasuki tiap toko yang ada.
Mobil berhenti. Saatnya saya menjelajahi toko-toko. Untungnya saya sangat senang jalan kaki. Jadilah saya jalan kaki menyusuri jalanan Tegalalang itu. Masuk dari toko ke toko. Dan selalu saja saya disapa:
“Hello! Dari mana tuan?”
Hahaha...tetap saja saya dikira turis Jepang, Korea, atau Taiwan. Mmm...biar saja lah. Asal jangan beri saya harga mahal!
Ada yang menarik dalam menawar harga barang-barang disini. Setidaknya itu bagi saya! Begini caranya:
1. Masuki toko yang Anda inginkan.
2. Bergayalah layaknya turis, untuk mendapatkan pelayanan nan ramah.
3. Tunjuk barang yang Anda mau.
4. Mengakulah bahwa Anda adalah orang yang hendak meng-eksport barang itu dan saat ini Anda butuh sampel.
5. Minta kartu nama toko itu, agar lebih menyakinkan bahwa Anda akan mengontak mereka lagi.
6. Lakukan kelima langkah diatas, maka Anda akan dapat harga yang sungguh murah!
Di Tegalalang saya mendapat ‘klentongan’ (semacam angklung bambu yang akan berbunyi waktu ditiup angin) yang sangat bagus dengan harga sangat murah. Hanya Rp. 15rb saja. Lalu gantungan ‘angel’ yang lucu untuk rumah baru saya dengan harga Rp. 10rb. Ah...senangnya!
Foto sama Ella di TegalalangDari Tegalalang kami bergerak ke Ubud. 15 menit saja sudah sampai disana. Saya lalu berjalan kaki menyusuri jalanan Ubud yang siang itu panas beneeerr!!! Tapi karena saya ditemani seorang perempuan cantik berkulit eksotis, maka semuanya jadi menyenangkan. Berfoto di sepanjang jalan, tentu tidak saya lewatkan! Bahkan saya sempat berhenti untuk berfoto di depan tugu museum Antonio Blanko yang kesohor itu. (Maunya masuk, tapi lain waktu saja, biar saya bisa lebih puas menikmati lukisan-lukisan di museum itu). Lalu jalan lagi ke pusat desa Ubud. Disana saya sempat mendengar penduduk setempat sedang berlatih gamelan.
Foto di depan tugu museum Blanko
Lelah berjalan, saya dan teman saya yang cantik itu masuk ke Casa Luna. Sebuah café yang nyaman dan asri milik suami istri asal Canada. Disitu saya memesan minuman sehat (healthy drink). Saya pilih campuran antara semangka, timun, dan seledri. Katanya untuk menurunkan tekanan darah (wah...bermanfaat sekali buat saya yang punya bakat hipertensi dan kemarin habis menghajar kopi gratisan Starbucks bergelas-gelas banyaknya!). Untuk makanan, saya memilih roti tawar yang disajikan dengan mentega. Selain murah, juga sehat. Rotinya roti gandum. Tapi ini bukan roti gandum biasa. Kelembutannya...tidak ada yang bisa mengalahkan deh! Sedang si cantik, memilih healthy drink yang berkebalikan dengan saya. Dia justru memilih yang bisa meningkatkan tekanan darah. “Gue kan darah rendah”, katanya dengan intonasi yang selalu terjaga dan membuat saya sering terhanyut. Makanannya, dia pilih lemon crumbled.
Sambil menikmati makanan dan minuman yang menyegarkan, mulutpun mulai tak sabar untuk mengeluarkan kata. Segala cerita mulai dari curhatan tentang dia yang membuat saya ‘lari’ ke Bali sampai diskusi menarik tentang agama, benar-benar membuat sore saya begitu berkualitas. Saya jadi tau sedikit-sedikit tentang agama Hindu di Bali, berikut ritual yang dijalankannya. Bagi saya hal itu sangat menarik. Mempelajari agama, kepercayaan, dan budaya mungkin memang hobby dan bakat saya.
Ketika obrolan mulai menurun, teman saya yang satu lagi tiba. Canda tawa pun dimulai. Semua senang. Semua gembira. Dan saya sungguh bersyukur akan hal ini. Saya sangat senang ketika melihat orang-orang di sekitar saya bergembira. Itu semua karena menurut saya, sudah terlalu banyak kesedihan disekeliling saya.
Casa Luna, benar-benar tempat yang nyaman dan asri! Angin semilir membawa kesejukan pada setiap orang yang mampir ke tempat ini. Highly recommended deh! Jangan sampai ke Ubud tanpa mampir ke CASA LUNA!!!
Dari Casa Luna (jam 17an) kami kembali ke Denpasar. Uff...badan terasa lelah bukan main! Tapi karena harus bersiap untuk rumah baru, maka saya menyempatkan diri untuk membeli perlengkapan rumah di Makro. Kompor listrik, wajan, panci, dan lain-lain deh!
Malam ini ditutup dengan makan bersama Joel, seorang teman yang baru saya kenal di sini. Seru juga obrolannya. Sampai rumah jam 12an, langsung tidur!




0 Comments:
Post a Comment
<< Home