Saturday, February 18, 2006

My 1st Date in Bali


Ke Bali saya sendirian. Teman dan pengetahuan saya sangat terbatas tentang tempat baru ini. Yang saya tahu hanya Kudos, itupun hanya dari selentingan seorang teman. Tapi Gaydar membantu saya. Akhirnya, saya bertemu seseorang yang baru.

Ketika sampai di Bali, dan masuk warnet untuk pertama kalinya, saya langsung membuka gaydar. Mencari teman tentunya. Ada sebuah profile yang menarik saya. Langsung saja saya kirim message. Dijawab atau tidak, interested atau tidak, urusan belakang.

Tak disangka, message saya berbalas. Dia memberi nomor telepon. Saya langsung meng-sms. Lama, tiada balas.

Hari-hari berlalu. Tetap tiada balas. Saya melupakan saja. Sudahlah.

Tiba-tiba, saat saya dengan makan malam di Aurora, sebuah restoran mewah di bilangan Jl. Oberoi, handphone Motorolla Razr V3 hitam saya berbunyi. Sebuah SMS masuk. Nomornya tidak saya ketahui.

“Malam! Maaf br bls, nama saya Ditya, saya emang org bali, and stay di dps, kamu asli mana and stay dmana?”

Itu pesan pertama dari dia. Saya kaget. Tidak mengira!

“Namanya manis sekali! Ditya!” Mmm...langsung terbayang wajahnya di profile gaydar.

Malam itu kami langsung berkirim balas sms. Saya senyum-senyum sendiri. Teman-teman saya pasti menangkap gestur saya.

Refleks saya mengajak dia untuk ikut ke acara Marlboro Mixtronica 2006 di 66 (Double Six). Kebetulan saya punya invitationnya. Tapi sayang dia tidak bisa ikut. Katanya besok harus ke Singaraja.

Setelah selesai acara makan malam, saya dan teman-teman kembali ke kost untuk ganti kostum demi menghadapi acara berikutnya di 66. Saat itulah saya mengirim SMS untuk bertemu Ditya di daerah Teuku Umar. (Rumah kami berdua rupanya berdekatan di daerah Teuku Umar, Denpasar). Saya juga telepon dia. Yang saya kaget adalah suaranya yang mirip sekali dengan suara Jo! Iya, Jo! Mirip sekali!!!!

Dan jadilah! Saya berjanji bertemu Ditya di Dunkin Donut.

Ketika saya datang, dia belum datang. Saya memesan secangkir black coffee (sekalian persiapan agar melek malam ini) dan duduk di pojokan. Tak lama ada SMS masuk. Dia sudah sampai dan mencari saya. Tak lama sosok tinggi itu masuk, memakai Polo shirt putih, celana jeans biru, dan sandal coklat Ken Hirai. Tak ketinggalan topi putihnya. Saya kaget. Dia tampak fashionable. Saya tidak mengira.

Saya balas SMSnya untuk mengatakan keberadaan saya. Dia lalu celingukan, kemudian melambaikan tangan. Duh...manisnya. Benar-benar orang yang manis. Obrolan kamipun berjalan lancar. Semua yang diomongkan nyambung. Saya katakan bahwa suaranya sangat mirip suara teman saya yang penyiar kondang itu. Saya sangat suka karena dia tidak sama sekali membawa dialek Bali yang belum terlalu bisa saya terima di telinga.

Sayangnya obrolan harus sekonyong-konyong terpotong akibat kejahilan dua teman saya yang mengatakan bahwa mereka akan segera berangkat ke 66 dan meninggalkan saya. Huh! Jadilah saya berpisah dengan Ditya dengan potongan-potongan asa yang masih tercecer. Sudahlah. Setidaknya saya sudah bertemu teman baru disini. Mungkin inilah hikmah dari tangisan saya siang tadi.

Tamu-Tamu Pertama Kost Saya

Malam itu jam 21an tanpa diduga Ella menelpon dan menyatakan akan berkunjung ke kost-kost-an saya yang baru. Wah, saya senang sekali. Disaat yang bersamaan Joel juga menelpon, katanya ia sedang tidak sibuk. Refleks saya langsung mengajaknya untuk datang ke kost-kost-an saya juga.

Jadilah malam itu kami ber-empat berkumpul di kamar kost saya yang baru. Sebuah kamar kost yang pada saat diiklankan di harian lokal ‘Bali Post’ dikatakan sebagai ‘nice apartment’. Saya berbagi dengan seorang teman di sini. Uang yang saya bayarkan tentu lebih kecil dengan cara itu.

Apartemen saya terdiri dari sebuah ruang tidur yang sekaligus adalah ruang tamu, ruang makan, ruang dandan, dan pemampatan ruang-ruang lainnya, sebuah dapur, dan sebuah kamar mandi. Fasilitasnya lumayan lengkap. AC, TV, Kulkas, tempat parkir yang luas, dan lokasi di tengah kota adalah hal-hal yang membuat kami memilih tempat ini, setidaknya untuk tiga bulan kedepan. Ah...ada yang saya lupa, biaya listrik ditanggung oleh bapak kost. Iya bapak kost.

Bapak kost saya bernama pak Endra. Saat pertama masuk ke ‘apartemen’ kecil ini saya sempat berbincang dengannya. Ia dan istrinya adalah orang asli Bali dan beragama Hindu. Ia sempat bercerita tentang reinkarnasi dalam agama Hindu. Saya yang pada dasarnya menyukai agama dan kebudayaan tentu tertarik dengan cerita-ceritanya. Tidak hanya itu, ia juga punya hobi fotografi. Ketika tahu bahwa saya suka fotografi, ia menawarkan saya pekerjaan untuk memotret makanan di restoran miliknya yang terletak tepat di depan ‘apartemen’ saya. Ya, pak Endra dan pekerjaannya adalah hal yang beberapa tahun lalu pernah saya perbincangkan dengan teman-teman sebagai pekerjaan yang paling ideal. Begini ceritanya:
Waktu itu saya punya seorang teman yang kaya raya. Rumahnya besar, mobilnya mewah-mewah, pakaian yang dipakainya selalu bermerk, pokoknya kelihatan banget deh kekayaannya. Karena dia ganteng, maka saya sering menginap di rumahnya. Saat itulah saya baru tahu bahwa ayahnya memiliki pekerjaan yang ‘ideal’. Ideal? Yup...ideal! Begini lho, sang ayah itu punya istri yang cantik (ibunya teman saya itu memang cantik dan tampak muda) yang berasal dari keluarga kaya. Selain itu, sang istri adalah salah satu pejabat teras di Pertamina, yang ini jelas membuat mereka makin kaya dong. Jangankan pejabat teras, pekerja biasa di Pertamina saja sudah kaya-kaya! Nah, diwaktu pagi, ketika sang istri bersibuk diri untuk berangkat ke kantor, ia masih bersantai-santai di kamar. Jam sepuluh ketika saya makan pagi bersama teman saya itu, ia baru tampak keluar kamar, masih memakai sarung. Jam dua-an ketika saya makan siang, ia menelpon rumah menanyakan barang-barang kebutuhan apa yang habis di rumah. Wah...berarti dia sedang di pusat perbelanjaan dong! Enak kan pekerjaan seperti itu. Bangun siang, santai-santai, dan berbelanja. Paling kerjanya malam doang! Itupun di kamar tidur!

Ya...ya...sudah...sudah...jangan ngomongin orang terus! Lebih baik saya membicarakan kejadian malam itu saja.

Awalnya, teuteup, kami langsung foto-foto di kamar kos. Banci kamera semua kayaknya! Selanjutnya, sebagai tuan rumah yang ingin membanggakan ‘apartemen’nya, saya dan Ika langsung mengeluarkan Milo dingin. Mmm...! Berikutnya adalah obrolan tentang rencana petualangan hari Minggu besok. Tampaknya kami akan ke Bedugul! Ah...saya tidak sabar untuk lagi-lagi menjelah Bali!



Jam 23an Ella mulai pamitan pulang. Ia pulang 15 menit kemudian. Disusul Joel yang pulang pukul 23.45an. ‘Apartemen’ kembali sepi. Saatnya tidur dan berbagi selimut dengan Ika!

Thursday, February 16, 2006

Trip to Ubud via Tegalalang

Kemarin saya ke Ubud. Seumur hidup saya, baru sekali ini saya ke daerah yang disebut-sebut sangat indah itu. Bahkan Antonio Blanko, pelukis Spanyol nan masyur itu, memilih untuk menetap di daerah pedesaan kecil ini.

Perjalanan dari Denpasar menuju Ubud memakan waktu sekitar satu jam. Teman saya yang ada di belakang kemudi menawarkan dua opsi. Pertama, lewat Sukawati (pasar seni yang sangat terkenal itu), atau kedua, lewat persawahan. Karena jiwa saya masih jiwa turis yang gila belanja oleh-oleh, maka saya langsung pilih opsi pertama. Lewat Sukawati.

Pilihan saya tak salah rupanya. Dua sisi jalan menuju Ubud via Sukawati itu benar-benar dipenuhi toko-toko yang menjual barang-barang seni khas Bali. Semua memanggil-manggil minta dibeli. Mmm...sepertinya saya memang harus mulai mengganti mind set yang masih saja menganggap diri sebagai turis. Sebab kalau begini terus, bisa-bisa uang saya habis untuk beli barang2 itu.

Ditengah perjalanan, seorang teman yang duduk di bangku belakang punya ide menarik. “Gimana kalau kita ke Tegalalang!” Wah...bagi saya, kemanapun di Bali ini adalah tempat yang menarik. Sebab saya memang sangat ingin menjelajah Bali sampe se dalam-dalamnya. Jadilah kami sebelum belok kiri ke Ubud, mengambil jalan lurus arah Tegalalang. Dan benar saja. Tak kalah bagusnya dengan Sukawati, toko-toko di sepanjang jalan Tegalalang ini rupanya juga menawarkan barang-barang seni khas Bali. Wow...hampir saja saya melompat dari mobil untuk memasuki tiap toko yang ada.

Mobil berhenti. Saatnya saya menjelajahi toko-toko. Untungnya saya sangat senang jalan kaki. Jadilah saya jalan kaki menyusuri jalanan Tegalalang itu. Masuk dari toko ke toko. Dan selalu saja saya disapa:
“Hello! Dari mana tuan?”
Hahaha...tetap saja saya dikira turis Jepang, Korea, atau Taiwan. Mmm...biar saja lah. Asal jangan beri saya harga mahal!

Ada yang menarik dalam menawar harga barang-barang disini. Setidaknya itu bagi saya! Begini caranya:
1. Masuki toko yang Anda inginkan.
2. Bergayalah layaknya turis, untuk mendapatkan pelayanan nan ramah.
3. Tunjuk barang yang Anda mau.
4. Mengakulah bahwa Anda adalah orang yang hendak meng-eksport barang itu dan saat ini Anda butuh sampel.
5. Minta kartu nama toko itu, agar lebih menyakinkan bahwa Anda akan mengontak mereka lagi.
6. Lakukan kelima langkah diatas, maka Anda akan dapat harga yang sungguh murah!

Di Tegalalang saya mendapat ‘klentongan’ (semacam angklung bambu yang akan berbunyi waktu ditiup angin) yang sangat bagus dengan harga sangat murah. Hanya Rp. 15rb saja. Lalu gantungan ‘angel’ yang lucu untuk rumah baru saya dengan harga Rp. 10rb. Ah...senangnya!
Foto sama Ella di Tegalalang

Dari Tegalalang kami bergerak ke Ubud. 15 menit saja sudah sampai disana. Saya lalu berjalan kaki menyusuri jalanan Ubud yang siang itu panas beneeerr!!! Tapi karena saya ditemani seorang perempuan cantik berkulit eksotis, maka semuanya jadi menyenangkan. Berfoto di sepanjang jalan, tentu tidak saya lewatkan! Bahkan saya sempat berhenti untuk berfoto di depan tugu museum Antonio Blanko yang kesohor itu. (Maunya masuk, tapi lain waktu saja, biar saya bisa lebih puas menikmati lukisan-lukisan di museum itu). Lalu jalan lagi ke pusat desa Ubud. Disana saya sempat mendengar penduduk setempat sedang berlatih gamelan.

Foto di depan tugu museum Blanko

Lelah berjalan, saya dan teman saya yang cantik itu masuk ke Casa Luna. Sebuah café yang nyaman dan asri milik suami istri asal Canada. Disitu saya memesan minuman sehat (healthy drink). Saya pilih campuran antara semangka, timun, dan seledri. Katanya untuk menurunkan tekanan darah (wah...bermanfaat sekali buat saya yang punya bakat hipertensi dan kemarin habis menghajar kopi gratisan Starbucks bergelas-gelas banyaknya!). Untuk makanan, saya memilih roti tawar yang disajikan dengan mentega. Selain murah, juga sehat. Rotinya roti gandum. Tapi ini bukan roti gandum biasa. Kelembutannya...tidak ada yang bisa mengalahkan deh! Sedang si cantik, memilih healthy drink yang berkebalikan dengan saya. Dia justru memilih yang bisa meningkatkan tekanan darah. “Gue kan darah rendah”, katanya dengan intonasi yang selalu terjaga dan membuat saya sering terhanyut. Makanannya, dia pilih lemon crumbled.

Sambil menikmati makanan dan minuman yang menyegarkan, mulutpun mulai tak sabar untuk mengeluarkan kata. Segala cerita mulai dari curhatan tentang dia yang membuat saya ‘lari’ ke Bali sampai diskusi menarik tentang agama, benar-benar membuat sore saya begitu berkualitas. Saya jadi tau sedikit-sedikit tentang agama Hindu di Bali, berikut ritual yang dijalankannya. Bagi saya hal itu sangat menarik. Mempelajari agama, kepercayaan, dan budaya mungkin memang hobby dan bakat saya.

Ketika obrolan mulai menurun, teman saya yang satu lagi tiba. Canda tawa pun dimulai. Semua senang. Semua gembira. Dan saya sungguh bersyukur akan hal ini. Saya sangat senang ketika melihat orang-orang di sekitar saya bergembira. Itu semua karena menurut saya, sudah terlalu banyak kesedihan disekeliling saya.
Casa Luna, benar-benar tempat yang nyaman dan asri! Angin semilir membawa kesejukan pada setiap orang yang mampir ke tempat ini. Highly recommended deh! Jangan sampai ke Ubud tanpa mampir ke CASA LUNA!!!

Dari Casa Luna (jam 17an) kami kembali ke Denpasar. Uff...badan terasa lelah bukan main! Tapi karena harus bersiap untuk rumah baru, maka saya menyempatkan diri untuk membeli perlengkapan rumah di Makro. Kompor listrik, wajan, panci, dan lain-lain deh!
Malam ini ditutup dengan makan bersama Joel, seorang teman yang baru saya kenal di sini. Seru juga obrolannya. Sampai rumah jam 12an, langsung tidur!

Wednesday, February 15, 2006

Besakih, Bali's 'Mother Temple'

Ajakan ke Besakih oleh Zoel, teman baru saya di Bali, tidak saya pikir dua kali! Langsung ‘ya!’. Kapan lagi ada yang mau ajak saya jalan-jalan gratis?

Jadilah siang itu (11.30) Zoel menjemput saya di tempat kos. Tujuannya jelas: jalan-jalan ke Besakih dan melihat puranya yang sangat kesohor itu. Perjalanan dari Denpasar ke Besakih memakan waktu sekitar satu setengah jam. Dalam perjalanan, saya dan Zoel sempat berhenti di sebuah tempat dengan pemandangan yang indah.

Yang menarik adalah bahwa di sepanjang jalan kami mendapati banyak sekali orang bergerak menuju Besakih dengan membawa berbagai persembahan untuk sembayang. Saya dan Zoel menduga bahwa di pura Besakih sana sedang ada upacara dan tentu ini akan sangat menarik.

Sampai di sebuah jalan (yang sudah dekat dengan pura), Zoel mengatakan bahwa kami harus membayar Rp.7500,-. Tapi lucunya hari itu tidak ada yang jaga disitu. Kami langsung tancap gas menuju pura. Disana kami harus memarkir mobil di tempat yang telah disediakan. Begitu turun dari mobil, pedagang sarung langsung sibuk menawarkan dagangannya. Bukan hanya untuk dibeli, tapi juga boleh di sewa. Ongkos sewanya Rp.5000,-. Ini hal yang unik. Selain tidak boleh masuknya perempuan yang sedang haid, peraturan di pura Besakih juga mengharuskan semua orang yang hendak masuk untuk bersarung. Motif, bentuk, cara pakai sarungnya bebas. Yang penting terlihat ada kain yang terpasang di pinggang. Karena sudah diingatkan Zoel untuk membawa sarung, maka saya tidak perlu menyewa apalagi membeli sarung disitu.

Selanjutnya kami dihentikan di gerbang masuk pura. Disitu kami ditanyai apakah sudah membeli retribusi di bawah tadi. Untung Zoel jago, dia bilang sudah, dan ketika ditanya mana buktinya, dia bilang tertinggal di mobil. Akhirnya kami boleh masuk. Mulai dari gerbang itu kami sudah harus mengenakan sarung (lagi-lagi terserah bagaimana memakainya). Di perjalanan itu kami diikuti oleh dua tukang ojek yang ribut minta disewa motornya, dan seorang pemandu lokal yang tak hentinya mengancam bahwa kami tidak boleh masuk ke pura tanpa dampingannya. Si tukang ojek minta bayaran Rp. 10.000,- untuk sewa motor, sedangkan si pemandu lokal minta Rp.15.000,- untuk panduannya. Saya sepakat untuk memakai pemandu saja dan tidak ojek karena memang saya ingin berjalan dibawah terik matahari agar kulit berwarna lebih coklat.
Perjalanan dari gerbang menuju pura adalah sekitar 1 km, menanjak pula. Lumayan untuk olahraga. Sampai di pura saya langsung kegirangan. Begitu banyak orang sedang sembahyang disana dengan aneka rupa persembahan yang mereka bawa. Warna-warni khas Bali begitu kental. Tak hentinya saya berganti-ganti kamera untuk mengabadikan setiap momen yang ada. Semua sangat menarik.



Sampai di sebuah kompleks pura, saya membeli canang. Canang saya definisikan sebagai sebuah sesembahan kecil yang terdiri dari bunga-bunga aneka rupa dengan piringnya yang terbuat dari janur. Indah sekali. Saya beli Rp.1000,-. Padahal saya tahu di pasar harganya Rp.500,- untuk tiga piring.

Setelah membeli canang, saya diajak untuk berdoa di sebuah kompleks pura. Upacara kecil itu dipimpin oleh seorang pemangku. Senang sekali rasanya ketika akhirnya saya merasakan bagaimana diperciki air yang menurut pemandu saya adalah air suci.Doa dimulai dengan mensucikan tangan dengan cara mengambil asap yang keluar dari hio. Lalu saya diminta untuk mengambil bunga berwarna biru, mengangkatnya ke kepala (layaknya orang menyembah), lalu meletakkannya di tanah. Berikutnya saya diminta mengambil daun yang hijau, mengangkatnya ke kepala, lalu meletakkan daun itu di atas kepala. Selanjutnya bunga berwarna merah atau kuning, mengangkatkan ke kepala, lalu membaginya menjadi dua bagian dan menyelipkannya di kedua daun telinga. Setelah itu semua selesai, sang pemangku bergerak mengambil air suci, memerciki saya lagi, lalu menempelkan sejumlah beras di dahi saya. Ini untuk kemakmuran, menurut pemandu saya.


Setelah semua selesai, saya diajak berjalan ke puncak pura Besakih. Dari sana terlihatlah kompleks pura (semuanya ada 18 kompleks pura) yang dikatakan sebagai ibu dari semua pura di Bali.

Perjalanan turun membuat saya dan Zoel terkejut. Ketika kami membayar di pemandu dengan uang Rp.15.000,- dia tampak bengong. Lalu protes: “Kurang!”. Saya bingung. Zoel apalagi. “Lima belas ribu itu satu orang. Jadi dua orang tiga puluh ribu.” Kata si pemandu dengan logat Bali nan kental. “Gwahahaha!” Saya dan Zoel langsung tertawa bersama. Rupanya kami telah ‘tertipu’ dengan kalimat nan ambigu khas daerah wisata. Tipu-tipu memang biasa disini! Ya sudah lah, kami bayar. Toh kami banyak mendapat pengetahuan dan bantuan darinya.

Dalam perjalanan pulang menuju gerbang pura, saya mencicip makanan khas Bali, sate lilit. Senangnya saya bisa mendapatkan sate ikan disini. Ada empat macam sate yang dijual disini. Sate ikan tuna dengan warna alami, warna merah, ikan campur kepala, dan sate babi. Saya cobai tiga yang pertama. Dan percayalah, semuanya enak, walaupun yang paling enak adalah sate ikan tuna dengan warna yang alami.

Dari Besakih saya menyetani Zoel untuk ke Ubud. Saya sangat suka Ubud setelah perjalanan pertama saya kesana kemarin. Untung Zoel mau. Senangnya saya bisa ke Ubud lagi.

Sampai di belokan Ubud dengan patung Arjunanya, saya langsung mengajak Zoel ke Tegalalang. Saya masih penasaran dengan klentongan bambu yang sangat bagus dengan harga Rp.15.000an. Tegalalang kami susuri. Tapi karena Zoel kelaparan, jadilah tidak sampai ujung seperti kemarin. Hari ini saya beli aroma therapy yang dijual berikut keramiknya dengan harga hanya Rp.8000,- saja. Setelah itu berhenti di penjual klentongan lain. Disana saya dapat klentongan 40cm hanya dengan Rp.5000,-. Senang!

Dalam perjalanan pulang ke Denpasar, kami berhenti untuk mengisi perut di sebuah warung Padang. Zoel agak ribut masalah makanan rupanya. OK lah. Setelah makan, tujuan berikutnya adalah Discovery Mall di pantai Kuta. Hmmm...langsung terbayang keindahan pantai itu. Sebelum kesana, lagi-lagi saya meracuni Zoel untuk mengantar saya ke Kuta Square. Disana saya membeli sebuah topi. Ini bukan untuk gaya-gayaan, tapi kebutuhan. Disini, saya butuh topi.
Jam 8 malam kegiatan berakhir. Pulang. Tidur.